Rambo

Written by admin on . No Comment, 189 views

Rambo
Review (-/10)
(By Wahyu)

Source: Wahyu

Hari minggu kemarin nonton bareng teman-teman kantor - Yose, Hendra, Irka, Yogi, Dhanu, Hanif, Lower - di 21 Nagoya Hill, satu-satunya Studio 21 yg ada di Kota Batam. Kami memilih film terbaru yg ditayangin di sana, Rambo : In The Serpent's Eye. Aku cerita tentang film itu aja ya, soalnya lagi bingung nyari bahan buat ngeblog. Bagi yg sudah nonton mending tidak usah diteruskan bacanya. Oke??

Dalam film ini John Rambo (Sylvester Stallone) dikisahkan menetap di Thailand Utara yg dekat dengan perbatasan Thailand - Burma (Myanmar). Figurnya digambarkan sebagai seseorang yg suka menyendiri, yg pekerjaan sehari-harinya adalah menangkap ular berbisa, memancing ikan, dan menjadi tukang perahu.

Profesinya inilah yg kemudian membawa sekelompok missionaris pimpinan Michael Bennet (Paul Schulze) dan Sarah (Julie Benz) menemuinya dan meminta untuk diantarkan ke Burma dengan melewati Sungai Salween, satu-satunya jalur yg menurut mereka bisa ditembus. Rombongan missionaris ini bermaksud mengantarkan bantuan medis dan makanan untuk Suku Karen yg selama berpuluh-puluh tahun menjadi target perang Junta Militer Burma. Rambo yg awalnya menolak permintaan itu akhirnya setuju setelah dibujuk oleh Sarah.

Perjalanan pun dimulai. Setelah berjam-jam menyusuri sungai, mereka pun tiba di tujuan. Rambo segera pulang melewati jalur yg sama, sementara Michael, Sarah, dkk langsung berbaur dengan Suku Karen yg sangat gembira menyambut kedatangan mereka. Mereka kemudian menjalankan aksi sosial mereka dengen membagikan makanan dan obat-obatan serta memberikan perawatan khusus kepada orang-orang cacat sambil mengajarkan agama kepada orang-orang tersebut. Namun, di tengah kesibukan itu tiba-tiba pasukan Junta Militer datang dan menyerang mereka secara membabi buta. Benar-benar sadis. Tidak peduli anak-anak, orang tua, atau pun perempuan semuanya ditembak dan dibom tanpa ampun. Kaki yg terpotong, kepala yg terpisah dari badan, sampai tubuh yg remuk semuanya bercampur jadi satu, tergeletak penuh debu bercampur darah. Sisanya yg masih hidup ditangkap kemudian ditahan, termasuk Michael, Sarah, dkk. Mereka dimasukkan ke dalam kerangkeng yg berada di areal markas Junta Militer.

Sementara itu, kediaman Rambo -kurang lebih dua minggu kemudian- kembali kedatangan tamu. Kali ini yg datang adalah Pastor Arthur Marsh (Ken Howard) yg mengabarkan bahwa para pekerja sosial yg berangkat ke Burma hingga saat ini belum kembali, padahal menurut jadwal seharusnya mereka sudah keluar dari Burma. Pastor itu kembali meminta bantuan Rambo untuk mengantarkan beberapa orang tentara bayaran untuk mencari keberadaan para pekerja sosial itu.

Di bawah komando Lewis (Graham McTavish) berangkatlah mereka memasuki wilayah Burma. Peperangan pun tidak bisa dihindari. Lewis yg awalnya meremehkan Rambo yg menurutnya hanya seorang tukang perahu akhirnya bersedia mengikuti Rambo setelah Rambo menyelematkan mereka dalam sebuah kontak senjata dengan Junta Militer. Pencarian pun diteruskan hingga mereka berhasil menembus markas Junta Militer. Di saat para anggota Junta sedang berpesta dan mabuk-mabukan, mereka pun dapat dengan leluasa membebaskan Michael, Sarah, dkk. Sayang mereka terlambat karena menjelang pagi mereka belum berhasil keluar dari wilayah Burma.

Junta Militer yg sadar telah kecolongan pun langsung melakukan pengejaran dengan segenap kekuatan yg mereka miliki, termasuk dengan mengerahkan anjing pelacak. Peperangan besar pun terjadi, dan di sinilah Rambo kembali menunjukkan kapabilitasnya sebagai seorang jago perang yg tidak pernah kalah. Dengan senjata seadanya dia mampu membuat Junta Militer kewalahan. Bahkan dengan bantuan Suku Karen dia bisa mengalahkan Junta Militer dan membunuh pimpinannya. Film ditutup dengan kembalinya Rambo ke negara asalnya setelah bertahun-tahun mengembara, menjadi superhero yg mampu berperang seorang diri tanpa terkalahkan. Ibarat kata dimana ada perang, di situ ada Rambo, dan perang pun beres. Hebat bukan???

Secara umum film ini menurutku biasa saja. Aku tidak dapat membandingkannya dengan sekuel Rambo sebelum-sebelumnya berhubung aku tidak pernah menyimak dengan baik sekuelnya meskipun seingatku pernah menonton ketika masih kecil dulu. Adegan-adegan yg disajikan benar-benar terasa nyata. Suara tembakan, ledakan bom, mayat yg membusuk, potongan kaki, kepala, atau bagian tubuh lainnya benar-benar divisualisasikan secara vulgar.

Kelemahannya, ceritanya terlalu biasa dan alurnya gampang ditebak. Tidak ada semacam ?kejutan' istimewa di tengah cerita. Endingnya pun kurang memuaskan. Entah kenapa aku berharap di akhir cerita Rambo tewas biar terkesan lebih dramatis. Nanti di sekuel berikutnya (kalau masih ada) Rambo digantikan dengan Rambo Junior biar penonton tidak bosan dengan Sylvester Stallone yg sepertinya sudah terlalu tua untuk bermain film action.

Buat yg suka film action, tidak ada salahnya menonton film ini. Tapi bagi yg tidak menyukai adegan kekerasan dan berdarah-darah, jangan coba-coba deh, apalagi buat anak kecil sangat tidak direkomendasikan.

Keyword : Super, Eko, Iman, Action, Drama, Sylvester Stallone, Julie Benz, Graham McTavish, Paul Schulze, Mya, Ayang, Bada, Sana, Yuka, Anya, A Di, Ant, Ken Howard, Anak, Arena, ATL, Ayan, Batas, Dara, DIG, EMI, Haru, Hero, May, Paul, Rambo, SIS, Superhero, Up, War, Bom, FILM, Bi, Maya, M., Alam, Aris, Emil, Arin, Tika, Land


Share This :