Harry Potter and the Order of the Phoenix

Written by admin on . No Comment, 200 views

Harry Potter and the Order of the Phoenix
Review (8/10)
(By Haris)

Fuuh, tak terasa Harry Potter sudah memasuki tahun kelimanya di Hogwart, School of Wizardy. Kini ia adalah remaja 15 tahun yang sudah mulai merasa nyaman dengan kekuatan sihirnya, tidak terpana lagi, seperti saat ia mula dikenalkan dengan dunia gaib tersebut. Tapi tahun ini sepertinya akan menjadi halangan baginya untuk melanjutkan studinya, karena ia diketahui menggunakan mantra di hadapan seorang muggle (manusia yang tidak berkemampuan sihir), yang kebetulan adalah Dudley (Harry Melling), sepupunya, saat mereka diserang Dementor. Akibatnya, kementrian sihir mengeluarkan maklumat untuk mengeluarkan Harry dari sekolah. Beruntung, kepala sekolah Hogwart, Prof. Albus Dumbledore (Michael Gambon), berhasil membela Harry, sehingga ia berhak melanjutkan pelajarannya.

Disekolah, datang guru baru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Dolores Umbridge (Imelda Staunton) yang menyebalkan. Ia menganggap Harry menyebarkan kebohongan dengan mengatakan Lord Veldemort (Ralp Fiennes) sudah kembali lagi. Umbridge yang juga anggota dewan kementrian sihir kemudian ditunjuk untuk menjadi Inkuisitor Agung yang punya kuasa untuk menginspeksi sesama rekan pengajar dan murid-murid tentunya. Ia juga mengeluarkan sejumlah dekrit yang membatasi ruang gerak murid. Bahkan ia melarang penggunaan mantra pertahanan di sekolah. Perlahan-lahan, kekuasaan Dumbledore pun mulai dilucuti.

Atas dorongan Hermione (Emma Watson) dan Ron (Rupert Grint), maka Harry memutuskan untuk memimpin sejumlah teman-temannya untuk membentuk Laskar Dumbledore dan mengajari mereka mantra-mantra Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, karena Harry telah berpengalaman sebelumnya saat berhadapan dengan Dia-Yang-Tak-Boleh-Disebut-Namanya. Sementara itu, karena mendapatkan mimpi-mimpi buruk yang berkepanjangan dan sepertinya berhubungan dengan Kau-Tahu-Siapa, Prof. Severus Snape (Alan Rickman, yang kelihatannya tidak berubah sedikitpun dari seri pertama), yang kelihatannya tak menyukai Harry, atas perintah Dumbledore mengajarkan occlumency (pertahanan sihir pikiran terhadap penetrasi luar). Diharapkan Harry dapat melawan mantra legilimency, kemampuan menyadap pikiran orang lain dan sangat dikuasai oleh Voldemort. Kekakuan hubungan antar Snape dan Harry justru mengacaukan jalannya pembelajaran dan membuka alasan mengapa Snape terlihat membenci Harry.

Sementara itu, penjara Azkaban kebobolan dan beberapa napi terlepas, termasuk Bellatrix Lestrange (Helena Bonham Carter), seorang Death Eater berbahaya andalan Voldemort. Kementrian sihir malah menuduh Sirius Black (Gary Oldman) sebagai dalang larinya para napi. Justru Harry bermimpi jika Sirius, ayah angkatnya, dalam cengkaraman bahaya yang disebabkan oleh Voldemort. Maka dibantu Hermione dan Ron serta Neville Longbottom (Matthew Lewis), Ginny (Bonnie Wright) dan Luna 'Looney' Lovegood (Evanna Lynch), Harry berusaha menyelamatkan orang yang kini dianggap sebagai satu-satunya kerabat yang dipunyainya.

Terus terang, semenjak buku keempat, saya dengan sadar dan suka rela menolak untuk membaca novel karangan J.K. Rowling ini lagi, secara ketebalan bukunya bisa digunakan untuk menimpuk sekaligus mencederai jika ada anjing yang mengejar kita. Bukannya saya tidak menyukai membaca, hanya saja dengan keterbatasan waktu yang dipunyai sekarang membuat saya pun membatasi ketebalan buku-buku yang saya baca. Jadi, sama dengan kasus 'Harry Potter and The Goblet of Fire'(2005), maka saya tidak bisa membandingkannya dengan bukunya. Berbeda dengan tiga buku dan tiga film pertama yang sudah saya lahap dengan nikmatnya. Walau begitu, film tersebut memenuhi ekpektasi saya terhadap seri Harry Potter yang mengendap di benak saya.

Bagaimana dengan yang satu ini? Bagi saya, secara personal, saya suka film ini, karena 'Harry Potter and The Order of Phoenix' yang dibesut oleh David Yates ini mampu menaikkan eskalasi dan kedalaman cerita menuju tahap selanjutnya, sesuatu yang memang diharapkan dari sebuah cerita yang berseri dengan karakter yang berkembang seperti ini. Harry Potter kini tampil dengan lebih dewasa, belum lebih matang memang, namun setidaknya menuju kearah itu. Tidak seperti dua seri awal, dimana dunia sihir-menyihir ini terlihat charming dan fantastik sekaligus kekanak-kanakan, maka dalam kematangan emisonil Harry Potter itu sendiri, dunia sihir eksis dengan tone yang lebih serius, gelap dan kelam. Suatu proses pendewasaan memang. Apalagi, untuk kali pertama, Harry Potter akan mencium gadis 'gebetan'-nya Cho Chang (Katie Leung) di film ini.

Quote:
Hermione Granger:So what was it like? [speaking about Harry's kiss]
Harry Potter: Kind of wet.
Hermione Granger: Well, she has been crying a lot lately...
Ron Weasley: Well, you'd think a bit of snogging would make her happy.

*wink*

Nah, mungkin disini letak masalahnya. Sepertinya J.K. Rowling menyiapkan seri kali ini sebagi jembatan untuk sesuatu 'yang lebih besar'. Dan itu mungkin di dua buku terakhir. Oleh karena itu film sepertinya lebih mengandalkan narasi sebagai eksposisi dan elaborasi karakter dari pada pamer fantasi, ketegangan atau laga yang memikat. Bisa dikatakan ini film yang paling 'kering' adegan fantastis dibandingkan empat seri sebelumnya, yang mungkin saja mengecewakan banyak yang menontonnya.

Seri Harry Potter sendiri sepertinya memang mengalami proses tranformasi menuju sesuatu yang bersifat epik. Dulu mungkin kita tak kan mengira jika seri ini akan berubah menjadi 'Lord of The Ring' misalnya. Namun, dengan indikasi yang semakin ditunjukkan melalui film ini, maka kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Mungkin rasa terima kasih harus disematkan untuk Alfonso Cuaron (Y Tu Mama Tambien), yang dalam 'Harry Potter and The Prisoner of The Azkaban' (2004) berhasil dengan gemilang membelokkan tone 'cerah' yang dulu diusung oleh Chris Columbus (Home Alone) dalam dua seri awalnya. Hingga kemudian Mike Newell (Mona Lisa Smile) dalam 'Harry Potter and the Goblet of Fire' dan kini David Yates tinggal meneruskan prestasi Cuaron serta mengikilapkannya dengan interprestasi mereka sendiri tentunya.

Selain ketiga bintang utamanya yang masih muda-muda, maka seri Harry Potter benar-benar beruntung mendapatkan deretan pemeran pendukung luar biasa (sebagian berkelas Oscar) yang sudah eksis dengan kegemilangan mereka bahkan mungkin jauh sebelum Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grint lahir.

Jika Ralp Fiennes, Gary Oldman, Michael Gambon, Imelda Staunton, Helena Bonham Carter dan Allan Rickman memang termasuk memainkan peran penting kali ini, maka bintang-bintang seperti Emma Thompson (Sybil Trelawney), Maggie Smith (Minerva McGonagall), Robbie Coltrane (Rubeus Hagrid), David Thewlis (Remus Lupin), Brendan Gleeson (Alastor 'Mad-Eye' Moody), Julie Walters (Mrs. Weasley) dan Jason Isaacs (Lucius Malfoy) bersedia tampil dalam peran kecil sebagai extended-cameo hanya karena ingin meneruskan peran mereka yang memang telah mereka perankan dalam film-film sebelumnya.

Akhirnya, mungkin 'Harry Potter and The Order of Phoenix' hanya dapat dinikmati atau dimengerti bagi yang sudah menggemari film-film atau buku-bukunya. Bagi yang tidak, siap-siap untuk kebingungan karena tidak mengetahui secara jelas juntrungan ceritanya (bayangkan saja, 1200 halaman dipadatkan dalam 2 jam 15 menit!). Berbeda dengan empat film sebelumnya yang rasa-rasanya masih dapat dicerna oleh penonton yang sangat awam akan novel J.K. Rowling tersebut. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, sepertinya memang seri ini adalah jembatan untuk seri berikutnya, 'Harry Potter and The Half-Blood Prince' yang rencananya bakal dirilis 18 bulan lagi dari sekarang atau tepatnya pada tanggal 21 November 2008. Jabatan sutradara pun masih dipegang oleh David Yates. Bagi yang sudah membaca novelnya, mungkin sudah bisa memperkirakan ceritanya bakal jadi seperti apa. Tapi, bagi saya yang sudah kadung 'malas', rasa penasaran jelas besar sekali. Can't hardly wait!

Keyword : Oscar, Eli, McG, Gary Oldman, Helena Bonham Carter, Emma Thompson, Julie Walters, Emma Watson, Zard, Eko, Iman, Untung, Ayang, Upi, KARA, School, You, Imelda Staunton, IU, Yuka, Jason Isaacs, Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Alan Rickman, Michael Gambon, Maggie Smith, Bonnie Wright, David Thewlis, Robbie Coltrane, Evanna Lynch, Matthew Lewis, Anya, David, A Di, Jason, Lara, Ant, 12, Alone, Anak, Arena, Ate, Ayan, Batas, Black, Dara, DIG, Dukun, EMI, Ex, GiE, Good, Guru, Harry Potter and the Goblet of Fire, Harry Potter and the Half-Blood Prince, Haru, Love, Mama, Manny, Mika, November, Out, Phoenix, Rick, Ruang, Run, RV, SIS, Up, War, FILM, Bi, M., Alam, Aris, Emil, Ron, Arin, Helena, Sisi


Share This :